Minggu, 04 September 2016

Dapur Umum (DU)

PENGANTAR DAPUR UMUM
Pengertian Dapur Umum

      Dapur Umum adalah Dapur Umum Lapangan yang diselenggarakan oleh Palang Merah Indonesia untuk menyediakan atau menyiapkan makanan dan dapat didistribusikan kepada korban bencana dalam waktu cepat dan tepat.

Penyelenggaraan Dapur Umum dilakukan apabila tidak memungkinkan bantuan mentah untuk korban bencana. Penyelenggaraan Dapur Umum untuk melayani kebutuhan makan para penderita / korban bencana bukan monopoli organisasi PMI, namun dapat diselenggarakan oleh siapa saja 

Penyelenggaraan Dapur Umum yang diselenggarakan oleh PMI Cabang menjadi tanggung jawab Pengurus PMI Cabang, yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh regu yang ditugaskan oleh Pengurus Cabang. Regu disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah korban yang harus dilayani.

Pembagian Tim Pengelola ( Regu – Kelompok – Sektor ) dalam pelaksanaan Dapur Umum yang disesuaikan dengan kebutuhaan dan jumlah sasaran penerima bantuan yang harus dilayani  :

 A.Regu  :
Satu regu yang menangani 1 unit dapur umum dengan kapasitas maksimal melayani 500 orang sekurang-kurangnya terdiri dari  :
  1. 1 orang Ketua Regu
  2. 1 orang Wakil Ketua Regu
  3. 1 orang Penanggungjawab Tata Usaha
  4. 1 orang Penanggungjawab Peralatan dan Perlengkapan
  5. 1 orang Penanggungjawab Memasak
  6. 1 orang Penanggungjawab Distribusi
  7. Beberapa orang tenaga yang membantu terdiri dari unsur masyarakat di daerah bencana dan sekitarnya

B.Kelompok  :
      Bila diperlukan lebih dari satu regu Dapur Umum sekaligus, maka regu – regu tersebut diberi nomor urut dan dihimpun dalam kelompok. Kelompok dipimpin oleh Ketua Kelompok dan jika perlu dibantu oleh seorang pembantu umum

C.Sektor  :
     Apabila masyarakat yang dilayani cukup besar jumlahnya dan terpencar di daerah yang cukup luas, maka kelompok-kelompok Dapur Umum tersebut dapat dihimpun dalam satu wilayah kerja yang disebut sektor. Sektor tersebut dipimpin oleh Ketua dan seorang pembantu umum


Pelaksanaan

Dalam menentukan lokasi agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
    
  1.  Letak Dapur Umum dekat dengan posko atau penampungan supaya mudah dicapai untuk dikunjugi korban
    2.    Kebersihan lingkungan cukup memadai
    3.    Aman dari bencana
    4.    Dekat dengan transportasi umum
    5.    Dekat dengan sumber air

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendistribusian :
   1.    Distribusi dilakukan dengan menggunakan kartu distribusi
   2.    Lokasi atau tempat pendistribusian yang aman dan mudah dicapai oleh korban
   3.    Waktu pendistribusian yang konsisten dan tepat waktu
   4.    Pengambilan jatah seyogyanya diambil oleh KK atau perwakilan yang sah
   5. Pembagian makanan bisa menggunakan daun, piring, kertas, atau sesuai dengan pertimbangan aman, cepat, praktis, dan sehat

Lama penyelenggaraan  :
   1.    Diselenggarakan bila situasi untuk memberikan bahan mentah tidak mungkin
   2.    Lamanya 1 –  3 hari untuk seluruh korban bencana
   3.    Hari ke 4 – 7 pemberian dilakukan secara selektif
   4.    Setelah lebih dari 7 hari diupayakan bantuan berupa bahan mentah

Kaitan Dapur Umum Dengan Standar Minimum 

    Standar-standar minimum ketahanan pangan, gizi, dan bantuan pangan adalah suatu pernyataan praktis dari asas-asas dan hak-hak seperti yang terkandung dalam Piagam kemanusiaan.Setiap orang berhak atas pangan yang cukup, hak ini diakui dalam Instrumen Hukum Internasional dan termasuk hal untuk terbebas dari kelaparan.

 Aspek-aspek hak untuk mendapatkan kecukupan pangan tersebut di atas mencakup :
   A. Ketersediaan pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan           gizi individu, bebas dari bahan-bahan yanag merugikan, dan dapat diterima dalam suatu           budaya tertentu.
   B. Pengan tersebut dapat dijangkau dengan cara berkesinambungan dan tidak mengganggu         pemenuhan hak-hak asasi manusia lainnya

Pentingnya ketahanan pangan dalam masa bencana  :
   A. Ketahanan Pangan  :
        Tercapai ketika semua orang dalam masa apapun mempunyai akses fisik dan ekonomis         terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk dapat hidup sehat

   B.Penghidupan  :
          Terdiri dari kemampuan, harta benda, dan aktivitas yang diperlukan untuk sarana                kehidupan yang terkait dengan pertahanan hidup dan kesejahteraan di masa mendatang

   C.Kekurangan Gizi  :
         Mencakup satu cakupan berbagai kondisi termasuk kekurangan gizi akut, kekurangan gizi        kronis, dan kekurangan vitamin dan mineral.

Contoh Peralatan DU 















































Contoh Keadaan DU di Lokasi



Sumber :
Materi dasar PMI

Jumat, 02 September 2016

Sejarah Palang Merah Internasional

Sejarah Palang Merah Internasional

Jean Henry Dunant

    Bapak Palang Merah Sedunia adalah Jean Henry Dunant beliaulah pendiri dan peloporberdirinya Palang Merah. J.H. Dunant lahir di Swiss pada tanggal 8 Mei 1828 (ditetapkan sebagai Hari Palang Merah dan BulanSabit Merah Internasional) Ayahnya bernama Jean Jacques Dunant dan Ibunya bernama AntoinetteColladon.

Sejarah Singkat Berdirinya Palang Merah

           1. Perang Solferino     

  Pada 24 Juni 1859 terjadi pertempuran antara Prancis dan Austria yang berlangsung di dataran rendah Italia bernama Solverino. Pertempuran tersebut melibatkan 320.000 prajurit, dan 36.000 di antaranya menderita luka-luka bahkan kehilangan nyawa. Pada hari yang sama, seorang pemuda Swiss, Jean Henry Dunant, berada di Solverino dalam rangka menjumpai Kaisar Prancis, Napoleon III. Saat perjalanan menuju kediaman Kaisar, Henry Dunant dan rombongannya terhalang oleh pertempuran tersebut. Banyak prajurit terluka bergelimpangan, tak ada satu pun aksi pertolongan. Tergerak oleh pemandangan perang yang mengerikan, korban berjatuhan di mana-mana, maka dengan segera Henry Dunant beserta penduduk setempat membentuk rumah sakit lapang sederhana, mengumpulkan kain tinen pembalut luka, dan menyediakan obat-obatan. Ia pun membatalkan kunjungannya ke kediaman Kaisar, seusai perang ia segera kembali ke Swiss. Di Swiss, ia pun menuliskan pengalamannya dalam buku berjudul :
 
"Un Souvenir de Solverino” ( Memory of Solverino / Kenangan Solverino )

        Buku yang menggambarkan betapa kejamnya peperangan dan pengalaman membantu korban tersebut menggemparkan Eropa. Secara garis besar, buku tersebut mengandung dua gagasan penting, yakni:
  1. Membentuk organisasi kemanusiaan Internasional yang disiapkan untuk menolong para prajurit, penduduk sipil, korban di medan perang.
  2. Mengadakan perjanjian Internasional untuk membentuk hukum melindungi prajurit yang terluka serta relawan organisasi yang tengah memberikan pertolongan di medan perang.
Pada 1863 Henry Dunant beserta empat warga Genewa merealisasikan gagasan tersebut. Mereka terkenal sebagai Komite Lima yang bertugas sebagai wadah relawan pemberi pertolongan pada peperangan. Kelima anggota tersebut adalah:
  • Jean Henry Dunant
  • Jendral Guallaume Henry Dufour
  • Dr. Theodore Mounier
  • Dr. Gustave Moynier
  • Dr. Louis Appia

         Komite tersebut meluas dan berkembang hingga saat ini terkenal sebagai ICRC
( International Committee of the Red Cross ). Dan ditetapkan pula tanggal 8 Mei 1863 sebagai Hari Palang Merah Internasional ( 8 Mei adalah tanggal lahir Henry Dunant ). 
Beberapa Negara pun turut serta membentuk organisasi Palang Merah di bawah naungan ICRC. Namun tidak hanya lambang Palang Merah yang dipakai. Kerajaan Ottoman ( Turki ) mengusullkan bagi Negara-negara Islam memakai tanda Bulan Sabit Merah. Sementara Negara-negara lain yang enggan memakai lambing Bulan Sabit Merah atau Palang Merah diperbolehkan memakai lambang Kristal Merah. Hal ini dikarenakan dahulu, banyak Negara yang memakai lambang berbeda-beda, misal Persia ( Iran ) memakai Singa Merah. Jepang mamakai Matahari Merah.
     Namun saat ini hanya 3 lambang yang disetujui Internasional, yakni Palang Merah, Bulan Sabit Merah dan Kristal Merah. Untuk mengglobalkan organisasi pertolongan ini, Palang Merah,
Bulan Sabit Merah dan Kristal Merah berada satu kesatuan di bawah naungan lembaga IFRC 
( Internasional Federation of the Red Cross ). IFRC diprakarsai oleh Henry Davidson 
( warga USA ) pada Konferensi Kesehatan Internasional Cannes, Prancis, 5 Mei 1919.

    2. Perang Krim

Florence Nightingale
      Florence adalah anak dari keluarga  bangsawan bernama  William Edward  Shore dengan istrinya  yang  bernama  Frances Smith berkebangsaan Inggris, lahir tanggal 12 Mei  1820 di Kota Florence Italia sewaktu orang tuanya tinggal disana.  Nama “Florence”, diambil dari nama kota dimana ia dilahirkan, sedangkan “Nightingale” berasal dari nama paman ayahnya.  Setelah 3 tahun berada di Italia, keluarga Edward kembali ke Inggris.
       Walau berasal dari keluarga bangsawan, Florence lebih suka bergaul dengan anak-anak rakyat  biasa dan suka menolong orang yang tengah berada dalam kesusahan, termasuk  di  daerah kumuh.  Didorong oleh kepribadian itulah maka Florence  memilih pendidikan  pada  sekolah perawat dan bukan  di sekolah yang  disediakan  untuk anak-anak keluarga bangsawan.   Padahal waktu itu profesi sebagai perawat  masih dianggap pekerjaan yang hina.

A. Perang Krim

        "KRIM" adalah nama semenanjung di Laut Hitam termasuk wilayah Rusia.  Dinamakan perang KRIM karena di semenanjung inilah terjadi perang dahsyat antara Rusia melawan Turki yang dibantu oleh Inggris dan Perancis. Rusia adalah sebuah negara besar dan mempunyai angkatan laut yang kuat tetapi tidak memiliki pelabuhan yang baik, sehinnga sulit bagi Negara tersebut mengendalikan armadanya.  Pelabuhan yang baik terletak di Laut Tengah tetapi pintu gerbang ke Laut Tengah itu dikuasai oleh Turki.  Oleh karena itu Rusia ingin menghancurkan Turki   agar   dapat   menduduki   Selat  Bosporus, Laut  Marmora,  Selat   Dardanela dan  Konstantinopel yang  merupakan jalan masuk ke Laut Tengah.       Dengan berkedok sebagai pimpinan agama Katolik Yunani, Rusia menuntut kepada Turki memberikan hak pelindung kepada Rusia bagi kepentingan rakyat Turki  yang beragama Katolik Yunani.  Jelas Turki menolak permintaan itu, walaupun  waktu itu Turki berada dalam kondisi yang sangat lemah.
                Mengingat Inggris dan Perancis sama-sama mempunyai kepentingan di Laut Tengah, permintaan  Rusia terhadap  Turki tersebut jelas merupakan ancaman  yang patut dicegah. Dengan  demikian Inggris  dan  Perancis serta merta   menyatakan akan membantu  Turki.  Disamping itu  Sardinia juga ingin bergabung agar pada saatnya nanti Perancis  diharapkan dapat pula membantu  Sardinia  membebaskan negaranya dari cengkraman musuhnya yaitu  Austria.
                Inggris dan Perancis yang cemas terhadap ancaman  Rusia  yang telah  mengatur strategi untuk menguasai  Selat  Dardanela, yang tentunya akan berpengaruh terhadap situasi Laut Tengah.  Inggris  dan  Perancis mempunyai  kepentingan politik dan ekonomi  terhadap Negara jajahannya, serta merta memaklumatkan perang terhadap  Rusia  pada bulan Maret  1854 yang mau tidak mau melibatkan  Turki.
                Perang  yang terjadi secara mendadak  itu jelas tidak didukung oleh kesiapan yang sempurna pada kedua pihak terutama logistik, fasilitas kesehatan dan tenaga medis.  Kesulitan lebih dirasakan oleh  Militer Inggris  karena jarak medan pertempuran pusat pemerintahannya cukup  jauh.  Disisi lain kesulitan yang dirasakan  oleh pasukan  sekutu (Inggris, Perancis dan  Turki)  ialah bahwa rumah sakit  yang diandalkan untuk kepentingan perawatan  letaknya jauh di pantai utara Turki, yakni di Scuturi.  Satu-satunya alat transportasi yang dapat digunakan ialah angkutan laut.   Memang terdapat barak-barak penampungan di garis depan (Sebastapol) tetapi jelas tidak memadai  baik tempat tidur, tenaga medis  maupun  obat-obatan serta logistic lainnya.
                Demikian menyedihkan keadaan  di  medan  pertempuran  Sebastapol  sehingga  para  prajurit yang menghembuskan  nafas karena  kurangny perawatan dan logistik  mencapai 60% dari mereka yang sakit dan luka.  Berita yang sangat memilukan hati yang disiarkan oleh surat  kabar The Times benar-benar menyentuh perasaan wrga Inggris, terutama wanita yang dengan mudah membayangkan betapa menderitanya putera-putera  mereka yang bertempur di negara  orang. 
Di medan pertempuran inilah terkenal pengabdian seorang gadis perawat  berkebangsaan Inggris yang  bernama 
 Florence Nightingale.


Sumber:
http://anggaello22.blogspot.co.id/2012/12/sejarah-palang-merah-internasionalicrc.html
https://bukansekedaromonganbelakaa.wordpress.com/2013/02/03/sejarah-palang-merah-internasional/